Denyut Nadi Kehidupan Wayang di Kepuhsari
Senin, 26 Mei 2025
Sentuhan Jiwa di Balik Bayangan : Kisah Pengrajin Wayang Kepuhsari
Jumat, 09 Mei 2025
Tanah Aneh di Rumah Para Dewa
Objek wisata yang terletak di dua kabupaten : Wonosobo di bagian timur dan Banjarnegara di bagian barat itu, adalah objek wisata alam pegunungan. Tentu saja hawanya sejuk. Cocok sekali untuk dikunjungi di saat temperature rata-rata kota Jakarta antara 35-38 derajat Celsius, bahkan lebih !
Dengan adanya jalan tol trans Jawa, Wonosobo jadi lebih mudah dijangkau. Jika rute lama melewati Banjarnegara, maka sekarang tetaplah berada di jalan tol trans Jawa dan keluar di gerbang Pemalang. Jarak Jakarta – Dieng yang sekitar 416 km itu bias ditempuh hanya dalam waktu kurang dari tujuh jam.
Menjelang kota Wonosobo, udara mulai terasa sejuk. Melewati kota
Wonosobo dan mendaki kearah Dieng, udara makin sejuk, ditambah pemandangan alam
yang indah. Di kanan kiri terhampar lahan pertanian, ada yang menanam kol,
kentang, dan lain-lain. Di perbukitan sana, tampak pohon-pohon keras menghijau.
Bukan hanya mata yang dicuci oleh indahnya pemandangan, adrenalin pun
dipacu lebih kencang demi melewati rute-rute maut. Jalan menanjak serta
tikungan tajam harus ditempuh dengan perseneling rendah. Di antara berbagai
tikungan tajam, di kiri-kanan menganga jurang nan curam. Saya perhatikan beberapa
teman tampak menahan nafas.
Dieng. Ya, sebuah nama pendek yang artinya tempat tinggal para dewa. Di artinya tempat para dewa, Hyang artinya Kahyangan. Sebagian
masyarakat local mengartikannya sebagai “Tanah yang Aneh”. Asalnya dari kata Adi (tanah) dan Seng (aneh)
Dua-duanya saya telan saja sebagai kebenaran. Betapa tidak, Dewa mana
yang tidak suka tinggal di wilayah yang begitu sejuk dan indah? Menurut
catatan, Dieng berada di ketinggian 2010 meter diatas permukaan laut (MDPL).
Ihwal tanah aneh, ada benernya juga. Di daerah ini bisa ditemukan
anak-anak dengan rambut gimbal. Bahkan untuk mencukurnya, harus dengan ritual
khusus. Memangkas rambut gimbal anak tanpa ritual, salah-salah bisa
mencelakakan si anak. Ah…entahlah.
Kita tengok dulu salah satu objek wisata di Dieng, yang disebut Batu Pandang Ratapan Angin. Konon, Batu Pandang Ratapan Angin adalah hasil kutukan cinta yang terlarang. Dikisahkan, seorang istri selingkuh dengan saudara kandung suami. Dikutuklah mereka menjadi batu. Sebagai pembenar mitos, disebutlah suara seperti orang merata, setiap kali ada hembusan angin kencang menerpa bebatuan itu.
Untuk mencapai objek wisata yang satu ini, perlu ekstra tenaga. Dari parkiran Elf, kita masih harus mendaki anak tangga 100-150 meter. Sesampai di puncak Batu Pandang Ratapan Angin, seorang teman berkata sambil terengah, “Worth it.” Benar. Sepadan dengan usaha yang kami keluarkan. Sebab di atas sini kita bisa memandang Gunung Prau, Telaga Warna, Telaga Pengilon, serta Kawah Belerang Sikidang. Amboi…indah sekali.
Telaga Warna tampak pula dari kejauhan. Sebuah fenomena unik, yaitu warna dapat berubah-ubah. Ada kalanya berwarna hijau, kuning, dan warna-warni seperti pelangi. Fenomena ini, karena air telaga mengandung sulfur, sehingga saat terkena sinar matahari, mengakibatkan efek perubahan warna.
Ada lagi Telaga Pengilon. Pengilon dalam bahasa Jawa artinya kaca cermin. Air Telaga itu mememang begitu jernih, alami seperti cermin. Air telaga ini tidak mengandung sulfur. Permukaan airnya pun tenang.Menurut legenda yang berkembang di masyarakat Dieng, telaga warna
adalah tempat pemandian para bidadari. Sedangkan telaga Pengilon untuk
bercermin dan berdandan para bidadari setelah mandi. Konon apabila kita
bercermin di telaga Pengilon akan tercermin watak dan sifat kita. Nah yang ini,
agak absurd penjelasannya. Apakah watak dan sifat memiliki bentuk?
Masih di area Dieng, salah satu objek wisata adalah Kawah Sikidang. Kawah vulkanik yang masih aktif, jelas terlihat dari gumpalan asap dan aroma belerang tercium dari bibir kawah. Kawah ini setiap empat tahun sekali, berpindah-pindah, seperti kidang (rusa) itulah yang menjadi asal-usul penamaan kawah. Secara teritori, objek ini masuk wewengkon Kabupaten Banjarnegara.
Bukit indah di Desa Sembungan, Wonosobo menjadi desa tertinggi di
pulau Jawa. Karenanya, menjadi lokasi paling ideal untuk menyaksikan terbitnya
matahari (sunrise), bahkan golden rise. Dari puncak Bukti Sikunir yang memiliki
ketinggian 2353 MDPL, itulah matahari muncul tepat di hadapan kita.
Agar mendapatkan moment terindah golden
rise, saya dan Team Refresh, dengan panduan “Joko Dieng” berangkat dari
homestay pukul 03.00 WIB. Memang terlalu awal, tapi kami mengalah dengan alas
an Joko, “kalau kesiangan sedikit, tidak akan kebagian tempat parkir.”
Salah-salah, gagal menyambut matahari pagi.
Tidak lupa, mas Joko berpesan agar mengisi perut, mengenakan jaket,
sarung tangan, dan penutup kepala. Temperatur yang sangat rendah (pernah
mencapai nol derajat Celsius), adalah alasan mengapa Joko berulang-ulang
menyampaikan pesan tadi.
Sesampai di area Bukit Sikunir, benar kata Joko. Kami harus antre
lumayan panjang. Usai shalat subuh berjamaah, saya dan Team Refresh siap
menyambut Sang Surya di pagi hari. Agar mendapat view terbaik, ada beberapa spot, tergantung selera.
Semburat kuning tampak di ufuk timur. Ayam jantan berkokok di kejauhan. Jagad semesta memunculkan tanda-tandanya menyambut datangnya Sang Surya. Pagi itu, kami seolah bisa melihat sang waktu bergulir. Pelan tapi pasti, semburat itu membesar, hingga pecah bola cahaya kuning menyala. Benar, matahari bangun dari peraduan. Oh…jangan ditanya indahnya, sebab saya tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk melukiskannya.
Komplek Candi Arjuna
Dataran tinggi Dieng juga memeliki kawasan candi, salah satunya
Komplek Candi Arjuna terletak ke Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara.
Komplek Candi Arjuna memiliki lima bangunan candi, yaitu : Candi Arjuna, Candi
Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra.
Sementara, Dharmasala adalah tempat peristirahatan dan persiapan sebelum memulai kegiatan keagamaan untuk menghadap para dewa di komplek Candi Arjuna. Dharmasala juga terletak di Kecamatan Batur. Lokasi ini dapat ditempuh dengan berjalan kaki melalui komplek Candi Arjuna.
Usai menjelajah wisata alam di kawasan Dieng, kini kita tengok wisata buatan manusia. Salah satunya objek wisata D’Qiano Hotspring Waterpark, tempat rekreasi air panas. Kolam pemandian air panas, tertinggi di Indonesia. Wahana yang disajikan seperti ember tumpah, kolam spiral, dan waterboom spiral.
























