PERUMNAS KLENDER – Suasana di salah satu sudut Perumnas Klender pada Selasa, 24 Maret 2026 (4 Syawal 1447 H), terasa berbeda dari biasanya. Gelak tawa yang renyah dan aroma hidangan khas lebaran menyeruak dari sebuah rumah yang hari itu menjadi saksi bisu sebuah peristiwa penting: kembalinya denyut nadi silaturahmi Trah Mbah Wahyu dan Mbah Khalimah.
Setelah beberapa tahun dilingkupi kesunyian karena absennya pertemuan rutin—atau yang biasa disebut masa "vakum"—generasi penerus keluarga ini akhirnya kembali duduk melingkar. Namun, ada pemandangan yang menyentuh hati di tengah keriuhan itu. Kursi-kursi yang biasanya diisi oleh para sesepuh, kini tampak kosong.
Menghidupkan Kenangan di Tengah Kehilangan
Pertemuan Halal Bihalal kali ini terasa begitu emosional. Tak ada lagi sosok orang tua, Pade, Bude, Om, maupun Tante yang biasanya menjadi pusat perhatian dan tempat meminta restu. Generasi yang kini berkumpul sepenuhnya adalah para sepupu dan keponakan.
"Kita adalah sisa-sisa akar yang harus tetap kuat meski batangnya sudah tiada," ujar salah satu anggota keluarga di sela-sela obrolan. Kehilangan figur orang tua memang meninggalkan lubang besar, namun justru rasa rindu itulah yang menjadi motor penggerak bagi para sepupu untuk kembali merapatkan barisan.
Kerinduan untuk Formasi yang Lengkap
Meski kehangatan begitu terasa, di sudut hati terdalam masih terselip sebuah harapan kecil yang belum tuntas. Di antara riuhnya obrolan, masih ada nama-nama saudara sepupu yang disebut dengan penuh rindu karena belum bisa hadir pada kesempatan kali ini. Kesibukan dan jarak mungkin menjadi pembatas untuk saat ini, namun doa agar mereka bisa bergabung selalu terucap.
Ada perasaan yang kurang lengkap tanpa kehadiran mereka. Seolah sebuah bingkai foto keluarga besar, masih ada ruang kosong yang menanti untuk diisi. Kehadiran setiap individu dalam keluarga Mbah Wahyu – Khalimah adalah potongan puzzle yang sangat berharga untuk menyempurnakan kebahagiaan bersama.
Harapan untuk Masa Depan: Bertemu Kembali dengan Formasi Utuh
Satu harapan besar membuncah di akhir pertemuan: Konsistensi dan Keutuhan.
Meski disadari bahwa kesibukan masing-masing sangat tinggi, ada komitmen yang tak tertulis namun terasa kuat di udara. Bahwa pertemuan ini jangan lagi terputus. Harapannya, di tahun-tahun mendatang, kursi-kursi kosong itu akan terisi. Saudara-saudara yang tahun ini berhalangan diharapkan bisa meluangkan waktu agar lingkaran kekeluargaan ini menjadi bulat sempurna.
"Semoga ini menjadi awal yang baik. Kami sangat berharap tahun depan kita semua bisa berkumpul tanpa terkecuali. Walau setahun sekali, yang penting rutin dan lengkap. Agar anak-cucu kita nanti tetap tahu siapa saudara mereka," ungkap salah satu keluarga dengan penuh harap.
Matahari mulai turun di ufuk barat Klender, namun hangatnya silaturahmi hari itu seolah enggan beranjak. Benang yang sempat terurai kini mulai terajut kembali, dan sebuah pesan rindu dikirimkan untuk saudara yang belum hadir: "Kami menunggumu di pertemuan tahun depan."
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin dari Keluarga Besar Mbah Wahyu – Khalimah.




0 komentar:
Posting Komentar