Menginformasikan, Menginspirasi dan Berinovasi

Minggu, 13 September 2026

Semangat Kekeluargaan Iringi Syukuran Ulang Tahun Dirut PT Unex Rajawali Indonesia, Bapak Budiman Tedja


Rangkul Tempat Cerita
— Suasana hangat dan penuh kebersamaan menyelimuti perayaan syukuran ulang tahun Direktur Utama PT Unex Rajawali Indonesia, Bapak Budiman Tedja, yang digelar hari ini, Jumat, 11 September 2026. Acara yang dihadiri oleh jajaran manajemen dan karyawan,  ini menjadi momen refleksi sekaligus penguatan solidaritas di dalam tubuh perusahaan.

Makna Filosofi "Satu Peruhu"

Dalam sambutannya di hadapan jajaran manajemen dan karyawan, Bapak Budiman Tedja menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya menjaga kebersamaan dalam menghadapi berbagai dinamika dunia bisnis. Beliau menegaskan bahwa kesuksesan yang diraih PT Unex Rajawali Indonesia selama ini tidak lepas dari kerja keras seluruh elemen perusahaan yang berjalan seirama.

"Unex adalah satu keluarga utuh saling bahu-membahu dalam menghadapi cobaan dan rintangan, ibarat kita dalam satu perahu." — Bapak Budiman Tedja, Direktur Utama PT Unex Rajawali Indonesia.

Melalui filosofi perahu tersebut, beliau mengingatkan bahwa setiap tantangan, baik gelombang kecil maupun badai besar, harus dihadapi bersama-sama. Tidak ada keberhasilan yang bisa dicapai seorang diri; semuanya membutuhkan sinergi, kepercayaan, dan kerja sama tim yang solid.

Rangkaian Acara dan Harapan ke Depan

  • Doa Bersama: Acara dibuka dengan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur atas kesehatan dan pencapaian yang telah diraih oleh Bapak Budiman Tedja serta kemajuan perusahaan.

  • Pemotongan Tumpeng: Dilanjutkan dengan prosesi pemotongan tumpeng yang diberikan langsung oleh Bapak Budiman kepada perwakilan karyawan sebagai simbol kehangatan dan rasa kekeluargaan.

  • Ramah Tamah: Ditutup dengan sesi ramah tamah yang mempererat keakraban antara jajaran direksi dan seluruh karyawan yang hadir.

Perayaan sederhana namun sarat makna ini diharapkan mampu memompa semangat baru bagi seluruh keluarga besar PT Unex Rajawali Indonesia untuk terus berinovasi, menjaga solidaritas, dan membawa perusahaan mengarungi tahun-tahun mendatang menuju pencapaian yang lebih gemilang.

Share:

Senin, 31 Agustus 2026

Silaturahmi dan Kolaborasi Strategis: Tim Jayakarta News Gelar Pertemuan Hangat di Bakmi Golek




Rangkul Tempat Cerita
 — Semangat kebersamaan dan penguatan sinergi mewarnai pertemuan antara jajaran redaksi dan rekan-rekan media Jayakarta News yang digelar hari Sabtu, 29 Agustus 2026. Bertempat di suasana santai namun produktif di restoran Bakmi Golek, pertemuan ini menjadi momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus merumuskan langkah strategis ke depan.

Diskusi yang berlangsung hangat tersebut dihadiri oleh para jurnalis, editor, serta mitra kerja Jayakarta News. Sambil menikmati hidangan khas nusantara yang disajikan, obrolan mengalir seputar dinamika dunia jurnalistik terkini, tantangan penyebaran informasi yang akurat, hingga penguatan jejaring pemberitaan yang berfokus pada aspirasi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, para peserta sepakat bahwa kolaborasi lintas jejaring sangat krusial di tengah arus informasi yang bergerak cepat. Pertemuan informal ini juga dimanfaatkan untuk mengevaluasi program kerja serta merancang inovasi konten agar Jayakarta News terus hadir sebagai media yang informatif, edukatif, dan tepercaya bagi pembaca.

Suasana keakraban tampak jelas sepanjang acara. Gelak tawa dan pertukaran ide kreatif menghiasi pertemuan yang ditutup dengan sesi foto bersama ini. Diharapkan, sinergi yang terjalin erat dari meja diskusi Bakmi Golek ini mampu melahirkan karya-karya jurnalistik yang semakin berkualitas dan berdampak positif bagi khalayak luas.

Share:

Minggu, 24 Mei 2026

Garis Tangan Silaturahmi: Menjemput Fitrah dari Slawi hingga Genukharjo

Foto Bersama dengan Keluarga Besar Bule Sito

Rumah Leluhur Mbah Wahyu-Khalimah



Gema takbir berkumandang memecah kesunyian malam, menandai datangnya hari yang fitri. Jumat, 17 Juli 2015—atau tepat 1 Syawal 1436 Hijriah—menjadi awal dari sebuah perjalanan panjang yang tidak akan pernah saya lupakan. Bukan sekadar ritual mudik tahunan, perjalanan kali ini adalah tentang merajut kembali simpul-simpul kekeluargaan yang membentang di sepanjang jalur darat pulau Jawa.

Di dalam kendaraan, rombongan kami terasa begitu istimewa. Saya memboyong "tim lengkap" lintas generasi: istri tercinta, Bapak kandung saya, Bapak mertua, serta seorang sepupu ipar dari pihak istri. Perbedaan usia dan latar belakang mencair di dalam ruang kemudi, digantikan oleh satu semangat yang sama: merayakan kemenangan dengan bersujud dan menjabat tangan orang-orang terkasih.


Sarapan Pagi Masakan Khas Slawi-Tegal

Persinggahan Semalam di Slawi: Menjemput Rindu Bule



Roda kendaraan berputar meninggalkan hiruk-pikuk Jakarta yang mulai lengang. Tujuan pertama kami adalah Slawi, Tegal. Di kota yang terkenal dengan teh poci dan logat ngapak-nya yang khas ini, tinggal adik perempuan dari Bapak saya—atau biasa kami panggil Bule.

Perjalanan mudik saat Lebaran tentu punya tantangannya sendiri, namun lelah itu menguap begitu kami tiba. Pelukan hangat dan senyum bahagia Bule menyambut kedatangan kami. Pertemuan antara Bapak dan adiknya menjadi pemandangan yang menghangatkan hati; sebuah pembuktian bahwa sejauh apa pun merantau, darah lebih kental daripada jarak.

Kami hanya singgah semalaman di Slawi. Waktu yang singkat itu kami maksimalkan untuk saling melepas rindu, bercengkerama di temani teh hangat, sebelum akhirnya memejamkan mata untuk mengisi kembali energi yang terkuras.

Menuju Jantung Wonogiri: Kehangatan di Desa Kedungdowo


Sabtu pagi yang cerah, perjalanan kembali dilanjutkan. Kali ini kemudi diarahkan lebih jauh ke timur, membelah Jawa Tengah menuju Wuryantoro, Wonogiri. Destinasi utama kami adalah Desa Kedungdowo, tempat tinggal Pak Le (Om) dari pihak istri, yang merupakan keluarga besar dari Ibu mertua.

Jika di Slawi kami hanya mampir sekejap, di Kedungdowo kami memutuskan untuk tinggal selama dua malam. Keputusan yang sangat tepat. Di desa yang asri ini, waktu serasa melambat, memberikan kami ruang yang cukup untuk bernapas dan menikmati kebersamaan. Kami disuguhi keramahan khas wong ndeso yang tulus, hidangan Lebaran yang menggugah selera, dan obrolan-obrolan gayeng yang penuh tawa. Bagi istri dan Bapak mertua, ini adalah momen pulang kampung yang mengobati seluruh rasa kangen pada tanah leluhur.



Suasana Didesa Kedungdowo - Wonogiri



Kejutan di Genukharjo: Pertemuan Tak Disangka Lintas Provinsi

Keuntungan tinggal lebih lama di Wuryantoro membuat kami memiliki waktu luang untuk memperluas jangkauan silaturahmi. Pada hari berikutnya, kami bergeser ke Desa Genukharjo untuk mengunjungi kerabat dari pihak Bapak mertua.

Di sinilah indahnya silaturahmi Lebaran sering kali memunculkan kejutan. Tanpa disangka-sangka, rumah kerabat di Genukharjo hari itu menjadi titik kumpul yang meriah. Kebetulan sekali, ada kerabat lain yang juga sedang mudik dari Semarang dan bahkan jauh-jauh dari Lampung, datang berkunjung ke desa yang sama.

Rumah semenjana itu mendadak ramai oleh riuh rendah suara obrolan. Ada logat Jakarta, aksen Semarang, hingga cerita-cerita dari tanah seberang di Lampung, semuanya melebur menjadi satu di Genukharjo, Wonogiri. Kami yang awalnya tidak merencanakan pertemuan besar ini, justru terjebak dalam momen reuni keluarga lintas provinsi yang sangat berkesan.

Perbincangan Serius berbagi pengalaman, Didesa Genukharjo

Catatan Perjalanan Mudik Lebaran 2015 bukan lagi sekadar cerita tentang kemacetan atau jauhnya jarak tempuh Jakarta–Tegal–Wonogiri. Perjalanan ini adalah sebuah ziarah kasih sayang. Dalam beberapa hari, kami berhasil menyatukan dua keluarga besar, melintasi batas kota dan provinsi, demi satu kata yang sakral: Silaturahmi. Sebuah kenangan indah 1436 H yang akan selalu abadi dalam ingatan.

Share:

Minggu, 26 April 2026

Kepuhsari: Di Mana Setiap Ketukan Patah Menjadi Napas Kehidupan

 

Retno Lawiyani (Pengelola Sanggar Asto Kenyo Art)
Di sebuah sudut Kabupaten Wonogiri, tepatnya di Kecamatan Manyaran, waktu seolah bergerak lebih lambat. Bukan karena tertinggal, melainkan karena masyarakatnya memilih untuk setia menjaga warisan yang telah berumur ratusan tahun. Selamat datang di Kampung Wayang Kepuhsari, sebuah desa yang bukan sekadar destinasi, melainkan sebuah museum hidup bagi seni wayang kulit.

Jejak Abadi Sejak Abad ke-17

Perjalanan saya kali ini membawa saya kembali ke masa lalu. Sejarah mencatat bahwa denyut nadi seni di Kepuhsari telah dimulai sejak abad ke-17. Konon, keahlian tata sungging (memahat dan mewarnai wayang) di desa ini diwariskan secara turun-temurun dari para abdi dalem kraton yang membawa kemahiran mereka ke wilayah perbukitan ini.

Hingga saat ini, tradisi tersebut tidak memudar. Justru, Kepuhsari tumbuh menjadi fenomena unik: hampir setiap warganya adalah pengrajin wayang. Berjalan menyusuri gang-gang desa, Anda akan mendengar simfoni ketukan patah (pahat kecil) menghantam kulit kerbau, sebuah suara yang menandakan bahwa kreativitas sedang bekerja di balik pintu-pintu rumah warga.

Bertemu Sang Penjaga Tradisi: Ibu Retno Lawiyani dan Asto Kenyo Art

Pusat dari perjalanan saya adalah Sanggar Asto Kenyo Art. Di sana, saya disambut oleh sosok yang menjadi motor penggerak desa ini: Ibu Retno Lawiyani. Beliau bukan hanya pengelola sanggar, tetapi juga memikul tanggung jawab sebagai koordinator wisata Kampung Wayang.

Mendengar Ibu Retno bercerita adalah cara terbaik memahami Kepuhsari. Dengan nada yang tenang namun penuh semangat, beliau menjelaskan bagaimana wayang bukan sekadar komoditas ekonomi bagi warga, melainkan identitas diri.

"Di sini, wayang adalah cara kami bercerita kepada dunia tentang kesabaran dan ketelitian," tutur Ibu Retno sambil menunjukkan beberapa detail halus pada wayang yang sedang dikerjakan.

Di bawah arahannya, Sanggar Asto Kenyo Art menjadi ruang inklusif. Tidak hanya menjadi tempat produksi, sanggar ini adalah sekolah bagi generasi muda dan pintu masuk bagi wisatawan yang ingin belajar langsung bagaimana selembar kulit kerbau bertransformasi menjadi tokoh ksatria atau raksasa yang gagah.


Asto Kenyo Art: Spektrum Kreativitas dari Pakem hingga Modernitas

Di tangan Ibu Retno dan para pengrajin di Sanggar Asto Kenyo Art, seni tata sungging tidak berhenti pada lembaran wayang untuk pertunjukan semata. Sanggar ini telah bertransformasi menjadi pusat kreativitas yang luas, membuktikan bahwa keahlian warisan abad ke-17 bisa diaplikasikan ke berbagai bentuk karya modern.

Bagi pengunjung yang datang, mata akan dimanjakan oleh variasi produk yang luar biasa:

  • Seni Lukis Wayang: Bukan sekadar tokoh berdiri, tetapi narasi epik yang dituangkan di atas media datar dengan detail warna yang sangat presisi. Lukisan-lukisan ini sering kali menjadi koleksi seni tinggi bagi para kolektor.

  • Aksesori Pernikahan: Sentuhan etnik Kepuhsari kini merambah ke pelaminan. Dari hiasan rambut hingga detail dekoratif lainnya, keahlian memahat kulit kerbau diaplikasikan untuk mempercantik momen sakral pasangan pengantin.

  • Cinderamata & Merchandise: Inilah jembatan bagi kaum muda dan wisatawan untuk membawa pulang sepotong sejarah Kepuhsari. Mulai dari gantungan kunci, pembatas buku, hingga hiasan dinding minimalis, semuanya dibuat dengan teknik manual yang sama dengan pembuatan wayang kulit asli.

"Kami ingin seni ini tidak hanya diam di kotak dalang," ungkap Ibu Retno. Diversifikasi produk ini adalah strategi cerdas agar ekonomi warga tetap berdenyut sekaligus memastikan seni tata sungging tetap relevan di ruang tamu, di pelaminan, hingga di meja kerja masyarakat modern.


Melampaui Sekadar Tradisi

Langkah yang diambil Sanggar Asto Kenyo Art menunjukkan bahwa regenerasi di Kampung Wayang tidak hanya soal mengajarkan cara memahat, tapi juga tentang inovasi. Dengan menciptakan produk seperti aksesori dan lukisan, Ibu Retno telah membuka pintu bagi pasar yang lebih luas—memastikan bahwa denyut nadi Kepuhsari tidak akan pernah berhenti selama kreativitas masih mengalir.

Sanggar ini memberikan perspektif baru: bahwa untuk menjaga tradisi tetap hidup, terkadang kita harus berani memberinya wajah-wajah baru yang bisa diterima oleh semua kalangan.

Penutup: Warisan yang Terus Hidup

Perjalanan ke Kepuhsari mengingatkan saya bahwa di tengah gempuran teknologi digital, ada hal-hal yang tidak bisa digantikan oleh mesin: ketulusan tangan manusia. Melalui tangan dingin Ibu Retno dan dedikasi warga di Sanggar Asto Kenyo Art, Kampung Wayang Kepuhsari membuktikan bahwa warisan abad ke-17 bisa tetap relevan, berdaya secara ekonomi, dan tetap mempesona di mata dunia. Jika Anda mencari ketenangan yang dibalut dengan kekayaan budaya, Kepuhsari adalah jawabannya.

Share:

Selasa, 07 April 2026

Merajut Kembali Benang yang Sempat Terurai: Halal Bihalal Keluarga Besar Mbah Wahyu – Khalimah

 



PERUMNAS KLENDER
– Suasana di salah satu sudut Perumnas Klender pada Selasa, 24 Maret 2026 (4 Syawal 1447 H), terasa berbeda dari biasanya. Gelak tawa yang renyah dan aroma hidangan khas lebaran menyeruak dari sebuah rumah yang hari itu menjadi saksi bisu sebuah peristiwa penting: kembalinya denyut nadi silaturahmi Trah Mbah Wahyu dan Mbah Khalimah.

Setelah beberapa tahun dilingkupi kesunyian karena absennya pertemuan rutin—atau yang biasa disebut masa "vakum"—generasi penerus keluarga ini akhirnya kembali duduk melingkar. Namun, ada pemandangan yang menyentuh hati di tengah keriuhan itu. Kursi-kursi yang biasanya diisi oleh para sesepuh, kini tampak kosong.

Menghidupkan Kenangan di Tengah Kehilangan

Pertemuan Halal Bihalal kali ini terasa begitu emosional. Tak ada lagi sosok orang tua, Pade, Bude, Om, maupun Tante yang biasanya menjadi pusat perhatian dan tempat meminta restu. Generasi yang kini berkumpul sepenuhnya adalah para sepupu dan keponakan.

"Kita adalah sisa-sisa akar yang harus tetap kuat meski batangnya sudah tiada," ujar salah satu anggota keluarga di sela-sela obrolan. Kehilangan figur orang tua memang meninggalkan lubang besar, namun justru rasa rindu itulah yang menjadi motor penggerak bagi para sepupu untuk kembali merapatkan barisan.

Kerinduan untuk Formasi yang Lengkap

Meski kehangatan begitu terasa, di sudut hati terdalam masih terselip sebuah harapan kecil yang belum tuntas. Di antara riuhnya obrolan, masih ada nama-nama saudara sepupu yang disebut dengan penuh rindu karena belum bisa hadir pada kesempatan kali ini. Kesibukan dan jarak mungkin menjadi pembatas untuk saat ini, namun doa agar mereka bisa bergabung selalu terucap.

Ada perasaan yang kurang lengkap tanpa kehadiran mereka. Seolah sebuah bingkai foto keluarga besar, masih ada ruang kosong yang menanti untuk diisi. Kehadiran setiap individu dalam keluarga Mbah Wahyu – Khalimah adalah potongan puzzle yang sangat berharga untuk menyempurnakan kebahagiaan bersama.

Harapan untuk Masa Depan: Bertemu Kembali dengan Formasi Utuh

Satu harapan besar membuncah di akhir pertemuan: Konsistensi dan Keutuhan.

Meski disadari bahwa kesibukan masing-masing sangat tinggi, ada komitmen yang tak tertulis namun terasa kuat di udara. Bahwa pertemuan ini jangan lagi terputus. Harapannya, di tahun-tahun mendatang, kursi-kursi kosong itu akan terisi. Saudara-saudara yang tahun ini berhalangan diharapkan bisa meluangkan waktu agar lingkaran kekeluargaan ini menjadi bulat sempurna.

"Semoga ini menjadi awal yang baik. Kami sangat berharap tahun depan kita semua bisa berkumpul tanpa terkecuali. Walau setahun sekali, yang penting rutin dan lengkap. Agar anak-cucu kita nanti tetap tahu siapa saudara mereka," ungkap salah satu keluarga dengan penuh harap.

Matahari mulai turun di ufuk barat Klender, namun hangatnya silaturahmi hari itu seolah enggan beranjak. Benang yang sempat terurai kini mulai terajut kembali, dan sebuah pesan rindu dikirimkan untuk saudara yang belum hadir: "Kami menunggumu di pertemuan tahun depan."

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin dari Keluarga Besar Mbah Wahyu – Khalimah.

Share:

Senin, 06 April 2026

Merajut Rindu di Sudut Klender: Kehangatan Tanpa Sekat dalam Halal Bihalal Ikawarta 1447 H

 



JAKARTA TIMUR
– Matahari sore di kawasan Perumnas Klender menyapu lembut deretan rumah yang tenang pada Minggu, 5 April 2026. Namun, di salah satu sudutnya, suasana terasa jauh lebih hidup dan berwarna. Harum aroma opor dan ketupat yang masih tersisa dari perayaan Idulfitri seolah menjadi pemandu jalan menuju sebuah pertemuan yang telah dinanti-nanti: Halal Bihalal Ikawarta Syawal 1447 H.



Lebih dari sekadar tradisi tahunan, pertemuan sore itu terasa seperti sebuah kepulangan. Sejak langkah pertama memasuki ruangan, tamu tidak disambut dengan formalitas yang kaku, melainkan oleh pelukan erat dan jabat tangan yang lama—seolah ingin melepaskan rindu yang telah tertahan selama setahun penuh.

Suasana haru mulai menyeruak saat untaian doa dipanjatkan. Di tengah riuhnya kota Jakarta Timur, ruangan itu mendadak hening, menyisakan ruang bagi refleksi dan rasa syukur. Ada getaran yang menyentuh perasaan saat satu per satu anggota Ikawarta saling bertukar tatap, menyadari bahwa di tengah kesibukan dunia yang kian cepat, mereka masih memiliki satu sama lain sebagai keluarga besar.



"Di sini, kita bukan siapa-siapa, kita adalah saudara," bisik salah seorang anggota di sela-sela obrolan ringan. Kalimat sederhana itu seolah merangkum seluruh esensi acara. Tidak ada sekat jabatan atau status sosial; yang ada hanyalah tawa renyah yang pecah saat mengenang memori lama, serta mata yang berkaca-kaca saat saling mengucapkan kata maaf yang tulus dari lubuk hati yang paling dalam.

Kehangatan semakin memuncak saat sesi ramah tamah. Sambil menikmati hidangan khas Lebaran, percakapan mengalir tanpa henti. Cerita tentang anak-anak yang mulai tumbuh besar, perjuangan hidup di tahun yang lalu, hingga harapan-harapan baru di masa depan menjadi bumbu yang menyedapkan pertemuan. Di sudut ruangan, generasi muda tampak mendengarkan wejangan dari para tetua dengan penuh takzim, menciptakan harmoni lintas generasi yang begitu indah.



Saat senja mulai turun di langit Klender, acara pun perlahan berakhir. Namun, langkah kaki yang meninggalkan lokasi tidaklah terasa berat. Ada semangat baru dan rasa damai yang dibawa pulang. Halal Bihalal Ikawarta tahun ini bukan hanya tentang merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi tentang merawat tunas kasih sayang agar tetap tumbuh subur.

Pertemuan di Perumnas Klender hari itu menjadi bukti nyata bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, selalu ada tempat untuk kembali, bersandar, dan merasakan kehangatan sebuah keluarga. Di bawah naungan Syawal 1447 H, Ikawarta kembali membuktikan bahwa kebersamaan adalah anugerah yang paling menyentuh jiwa.

Share:

Rabu, 01 April 2026

Seperempat Abad Menanti: Pelukan Hangat di Kota Hujan

 




Bogor, 31 Maret 2026 — Di bawah langit Bogor yang teduh pada hari Selasa, tepat di hari raya Idul Fitri 1447 H, sebuah penantian panjang akhirnya tuntas. Bukan sekadar hitungan tahun, melainkan perjalanan waktu selama 25 tahun lebih yang sempat memisahkan langkah, namun tak pernah benar-benar memutus ingatan.

Suasana lebaran tahun ini terasa berbeda. Di antara aroma ketupat dan opor yang khas, ada debar yang tak biasa saat kaki melangkah menuju titik temu. Seperempat abad adalah waktu yang cukup untuk mengubah banyak hal: garis wajah yang mulai tampak, rambut yang mungkin tak lagi hitam pekat, hingga status dan peran hidup yang telah jauh melampaui masa remaja dulu.

Tawa yang Tak Berubah

Saat pintu terbuka dan tatapan pertama bertemu, waktu seolah ditarik mundur secara paksa. Rasa canggung yang sempat dikhawatirkan menguap begitu saja, digantikan oleh ledakan tawa dan pelukan erat yang tulus. Meski suara kami kini lebih berat dan pembicaraan beralih ke topik keluarga atau kesehatan, binar mata saat saling melempar candaan lama tetap sama seperti 25 tahun lalu.

Bogor dengan udaranya yang sejuk seolah ikut merestui pertemuan ini. Di sebuah sudut ruang yang hangat, kenangan-kenangan usang kembali dipulangkan. Nama-nama lama disebut, kejadian-kejadian konyol di masa lalu diceritakan ulang seolah baru terjadi kemarin sore.

Ruang yang Belum Lengkap

Memang, lingkaran kami hari ini belum sepenuhnya utuh. Ada beberapa kursi kosong yang seharusnya diisi oleh sahabat-sahabat lain yang berhalangan hadir karena jarak atau urusan yang tak bisa ditinggalkan. Namun, ketidakhadiran mereka tidak sedikit pun mengurangi nilai pertemuan ini.

"Belum lengkap, tapi sudah sangat cukup untuk mengobati rindu," bisik salah satu dari kami di tengah obrolan.

Justru di sela-sela formasi yang belum lengkap itu, ada doa yang terucap agar di hari raya berikutnya, lingkaran ini bisa benar-benar sempurna. Ketidaklengkapan ini menjadi pengingat bahwa persahabatan bukanlah soal jumlah, melainkan soal bagaimana kita masih saling mencari dan ingin kembali pulang ke pelukan sahabat lama setelah puluhan tahun berkelana.

Makna Kemenangan yang Sesungguhnya

Idul Fitri 1447 H ini bukan sekadar perayaan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Bagi kami, ini adalah perayaan atas ketangguhan sebuah ikatan. Bertemu kembali setelah 25 tahun adalah bukti bahwa waktu boleh saja merampas masa muda kami, tapi ia tidak pernah bisa mencuri rasa persaudaraan yang telah tertanam sejak lama.

Sore itu, saat matahari mulai condong ke barat di langit Kota Hujan, kami sadar: meski dunia telah berubah drastis sejak terakhir kami berjumpa, di mata satu sama lain, kami tetaplah sahabat yang sama.

Perjumpaan ini adalah kado lebaran terindah. Sebuah pengingat bahwa sejauh apa pun kita melangkah, selalu ada jalan untuk kembali pulang.

Share:

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.