Menginformasikan, Menginspirasi dan Berinovasi

Minggu, 28 September 2025

Ojo Adigang, Adigung, Adiguna: Merawat Kerendahan Hati dalam Kehidupan

 


"Ojo Adigang, Adigung, Adiguna" adalah sebuah pepatah atau nasihat luhur dalam kebudayaan Jawa yang maknanya sangat mendalam dan relevan sepanjang masa. Secara harfiah, frasa ini berarti "Jangan bersikap sombong/angkuh karena kekuatan, kekuasaan, dan kepandaian yang dimiliki." Nasihat ini mengajarkan filosofi hidup yang berpusat pada kerendahan hati, pengendalian diri, dan kesadaran akan keterbatasan diri sebagai manusia.

Pepatah ini bahkan dikenal sebagai salah satu ajaran yang termuat dalam Serat Wulangreh karya Sri Sunan Pakubuwana IV, menunjukkan betapa pentingnya pesan ini sebagai panduan etika dan moral.

Mengurai Tiga Sifat Angkuh

Pepatah ini terdiri dari tiga unsur kata yang masing-masing memiliki makna kesombongan yang berbeda, yang ketiganya harus dihindari:

1. Adigang (Sombong Kekuatan/Keperkasaan)

Kata Adigang merujuk pada sikap menyombongkan atau mengandalkan kekuatan dan keperkasaan fisik yang dimiliki. Sifat ini diibaratkan pada kijang yang bangga dan menyombongkan kecepatan larinya yang luar biasa, merasa tidak ada yang bisa menandinginya.

Sikap Adigang mencerminkan orang yang merasa paling kuat, paling mampu secara fisik, dan bisa menyelesaikan segala masalah hanya dengan mengandalkan otot atau pengaruh fisiknya. Dampaknya, orang tersebut menjadi lupa diri dan meremehkan orang lain.

2. Adigung (Sombong Kekuasaan/Keluhuran)

Kata Adigung bermakna menyombongkan atau membanggakan kekuasaan, kedudukan, keturunan, atau keluhuran status sosial yang dimiliki. Sifat ini dianalogikan dengan gajah (esthi) yang besar, gagah, dan nyaris tak tertandingi oleh hewan lain, sehingga merasa dirinya yang paling agung dan berkuasa.

Orang yang bersikap Adigung merasa dirinya lebih mulia, lebih terhormat, atau lebih penting dibandingkan orang lain karena jabatan, harta, atau garis keturunannya. Kesombongan jenis ini sering kali berujung pada sikap otoriter dan lupa bahwa kekuasaan hanyalah titipan sementara.

3. Adiguna (Sombong Kepandaian/Kecerdikan)

Kata Adiguna adalah sikap menyombongkan kepandaian, kecerdasan, ilmu pengetahuan, atau kecerdikan yang dimiliki. Sifat ini disimbolkan pada ular yang merasa pandai menggunakan bisanya sebagai senjata mematikan.

Sikap Adiguna membuat seseorang merasa paling pintar, paling benar, dan menganggap remeh pengetahuan atau pengalaman orang lain. Padahal, ilmu di dunia ini sangat luas dan selalu ada yang lebih ahli atau berpengalaman. Kecerdasan yang disombongkan justru akan menjauhkan diri dari hikmah dan kebijaksanaan.

Mengapa Kita Harus Menghindari Tiga Sifat Ini?

Pepatah "Ojo Adigang, Adigung, Adiguna" adalah pengingat bahwa ketiga bentuk kesombongan tersebut pada akhirnya akan membawa malapetaka bagi pemiliknya. Dalam Serat Wulangreh, dikisahkan bahwa sifat-sifat yang dibanggakan kijang, gajah, dan ular justru menjadi sebab kematian atau kehancuran mereka sendiri.

Kesombongan adalah akar dari kehancuran moral dan sosial. Orang yang sombong akan dijauhi oleh orang lain, kehilangan empati, dan berhenti belajar. Mereka akan mudah terjerumus dalam kesalahan karena merasa diri paling benar dan paling segalanya.

Relevansi di Era Modern

Meskipun lahir dari kearifan masa lampau, filosofi ini tetap sangat relevan dalam kehidupan modern, terutama di tengah arus kompetisi dan pamer diri di media sosial:

  • Dalam Karier: Seorang pemimpin harus menghindari Adigung dengan tidak bersikap otoriter hanya karena jabatan. Ia juga harus menghindari Adiguna dengan tetap mau mendengarkan masukan dari bawahannya, meskipun ia yang paling berpendidikan.

  • Dalam Media Sosial: Adigang, Adigung, Adiguna termanifestasi dalam pamer kekayaan, kekuatan fisik, atau kecerdasan demi mendapatkan pujian. Nasihat ini mengajarkan kita untuk menggunakan platform digital secara bijaksana, tanpa perlu merasa superior dari orang lain.

  • Dalam Kehidupan Sosial: Pepatah ini mengingatkan kita untuk selalu bersikap andhap asor (rendah hati) dan eling lan waspada (selalu ingat dan waspada), bahwa segala kelebihan yang kita miliki hanyalah anugerah dari Tuhan, bukan hasil mutlak dari usaha sendiri yang patut disombongkan.

Pada akhirnya, "Ojo Adigang, Adigung, Adiguna" adalah ajakan untuk hidup seimbang, di mana kekuatan, kekuasaan, dan kepandaian dijadikan sarana untuk berkontribusi dan melayani sesama, bukan sebagai alat untuk meninggikan diri. Dengan merawat kerendahan hati, kita akan menemukan kedamaian sejati dan hubungan yang harmonis dengan lingkungan sekitar.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.