Menginformasikan, Menginspirasi dan Berinovasi

Minggu, 24 Mei 2026

Garis Tangan Silaturahmi: Menjemput Fitrah dari Slawi hingga Genukharjo

Foto Bersama dengan Keluarga Besar Bule Sito

Rumah Leluhur Mbah Wahyu-Khalimah



Gema takbir berkumandang memecah kesunyian malam, menandai datangnya hari yang fitri. Jumat, 17 Juli 2015—atau tepat 1 Syawal 1436 Hijriah—menjadi awal dari sebuah perjalanan panjang yang tidak akan pernah saya lupakan. Bukan sekadar ritual mudik tahunan, perjalanan kali ini adalah tentang merajut kembali simpul-simpul kekeluargaan yang membentang di sepanjang jalur darat pulau Jawa.

Di dalam kendaraan, rombongan kami terasa begitu istimewa. Saya memboyong "tim lengkap" lintas generasi: istri tercinta, Bapak kandung saya, Bapak mertua, serta seorang sepupu ipar dari pihak istri. Perbedaan usia dan latar belakang mencair di dalam ruang kemudi, digantikan oleh satu semangat yang sama: merayakan kemenangan dengan bersujud dan menjabat tangan orang-orang terkasih.


Sarapan Pagi Masakan Khas Slawi-Tegal

Persinggahan Semalam di Slawi: Menjemput Rindu Bule



Roda kendaraan berputar meninggalkan hiruk-pikuk Jakarta yang mulai lengang. Tujuan pertama kami adalah Slawi, Tegal. Di kota yang terkenal dengan teh poci dan logat ngapak-nya yang khas ini, tinggal adik perempuan dari Bapak saya—atau biasa kami panggil Bule.

Perjalanan mudik saat Lebaran tentu punya tantangannya sendiri, namun lelah itu menguap begitu kami tiba. Pelukan hangat dan senyum bahagia Bule menyambut kedatangan kami. Pertemuan antara Bapak dan adiknya menjadi pemandangan yang menghangatkan hati; sebuah pembuktian bahwa sejauh apa pun merantau, darah lebih kental daripada jarak.

Kami hanya singgah semalaman di Slawi. Waktu yang singkat itu kami maksimalkan untuk saling melepas rindu, bercengkerama di temani teh hangat, sebelum akhirnya memejamkan mata untuk mengisi kembali energi yang terkuras.

Menuju Jantung Wonogiri: Kehangatan di Desa Kedungdowo


Sabtu pagi yang cerah, perjalanan kembali dilanjutkan. Kali ini kemudi diarahkan lebih jauh ke timur, membelah Jawa Tengah menuju Wuryantoro, Wonogiri. Destinasi utama kami adalah Desa Kedungdowo, tempat tinggal Pak Le (Om) dari pihak istri, yang merupakan keluarga besar dari Ibu mertua.

Jika di Slawi kami hanya mampir sekejap, di Kedungdowo kami memutuskan untuk tinggal selama dua malam. Keputusan yang sangat tepat. Di desa yang asri ini, waktu serasa melambat, memberikan kami ruang yang cukup untuk bernapas dan menikmati kebersamaan. Kami disuguhi keramahan khas wong ndeso yang tulus, hidangan Lebaran yang menggugah selera, dan obrolan-obrolan gayeng yang penuh tawa. Bagi istri dan Bapak mertua, ini adalah momen pulang kampung yang mengobati seluruh rasa kangen pada tanah leluhur.



Suasana Didesa Kedungdowo - Wonogiri



Kejutan di Genukharjo: Pertemuan Tak Disangka Lintas Provinsi

Keuntungan tinggal lebih lama di Wuryantoro membuat kami memiliki waktu luang untuk memperluas jangkauan silaturahmi. Pada hari berikutnya, kami bergeser ke Desa Genukharjo untuk mengunjungi kerabat dari pihak Bapak mertua.

Di sinilah indahnya silaturahmi Lebaran sering kali memunculkan kejutan. Tanpa disangka-sangka, rumah kerabat di Genukharjo hari itu menjadi titik kumpul yang meriah. Kebetulan sekali, ada kerabat lain yang juga sedang mudik dari Semarang dan bahkan jauh-jauh dari Lampung, datang berkunjung ke desa yang sama.

Rumah semenjana itu mendadak ramai oleh riuh rendah suara obrolan. Ada logat Jakarta, aksen Semarang, hingga cerita-cerita dari tanah seberang di Lampung, semuanya melebur menjadi satu di Genukharjo, Wonogiri. Kami yang awalnya tidak merencanakan pertemuan besar ini, justru terjebak dalam momen reuni keluarga lintas provinsi yang sangat berkesan.

Perbincangan Serius berbagi pengalaman, Didesa Genukharjo

Catatan Perjalanan Mudik Lebaran 2015 bukan lagi sekadar cerita tentang kemacetan atau jauhnya jarak tempuh Jakarta–Tegal–Wonogiri. Perjalanan ini adalah sebuah ziarah kasih sayang. Dalam beberapa hari, kami berhasil menyatukan dua keluarga besar, melintasi batas kota dan provinsi, demi satu kata yang sakral: Silaturahmi. Sebuah kenangan indah 1436 H yang akan selalu abadi dalam ingatan.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.