Menginformasikan, Menginspirasi dan Berinovasi

Senin, 09 Juni 2025

Jejak Rasa Nusantara : HIK, Warisan Kuliner Kampung

Tentu, mari kita telesuri asal-usal HIK atau yang lebih dikenal dengan Angkringan. Ini adalah bagian yang sangat menarik dari sejarah kuliner dan sosial di Jawa. Untuk memberikan informasi yang paling akurat dan relevan mengenai asal-usul HIK, saya akan mencari beberapa informasi. Baik, berdasarkan informasi yang saya kumpulkan, berikut adalah rangkuman mengenai asal-usul HIK atau Angkringan:

Asal-Usul HIK (Hidangan Istimewa Kampung)/Angkringan

HIK atau Angkringan adalah salah satu ikon kuliner kaki lima yang sangat lekat dengan budaya Jawa, khususnya di Yogyakarta dan Solo. Meskipun kini telah menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, akar sejarahnya berasal dari satu titik di Jawa Tengah.

 1. Desa Ngerangan, Klaten 

Cikal Bakal Angkringan Asal-usul Angkringan atau HIK seringkali dikaitkan dengan Desa Ngerangan, Bayat, Klaten Jawa Tengah. Desa ini bahkan memiliki Monumen Cikal Bakal Angkringan sebagai penanda sejarahnya. Banyak pedagang HIK/Angkringan yang merantau ke kota-kota besar di Jawa, seperti Solo dan Yogyakarta, berasal dari desa ini.

 

 2. Tokoh Pelopor : Eyang Karso Dikromo (Jukut) 

Sosok yang disebut-sebuat sebagai pelopor Angkringan adalah Eyang Karso Dikromo, yang akrab dipanggil Jukut. Pada tahun 1930-an, saat masih muda , Karso merantau dari Ngerangan ke Solo. Awalnya, ia berjualan "terikan" (makanan Khas Jawa Tengah) dengan menggunakan pikulan. Ide berlian Karso muncul ketika ia menambahkan minuman seperti teh dan jahe ke dalam dagangannya. Ia memodifikasi pikulan jualannya: bagian depan untuk makanan, dan bagian belakang untuk ceret minuman. Konsep inilah yang kemudian sukses dan diikuti oleh banyak warga lain.

3. Perkembangan dan Penyebutan Nama 

      Di Solo: "HIK" atau "Wedangan" Di Solo, warung pikulan ini populer dengan sebutan HIK (Hidangan Istimewa Kampung) atau Wedangan (karena menonjolkan aneka wedang/minuman hangat). Mengenai asal-usul istilah "HIK" sendiri ada beberapa versi, diantaranya: 

        o    Dari teriakan pedagang saat berkeliling: "Hiikk...Hiiiyyeeekkk!" atau "Ting...ting...hik."

        o    Sebagai akronim dari "Hidangan Istimewa Kampung," yang memang mempresentasikan sajian
             sederhana namun berkesan bagi masyarakat.

     Di Yogyakarta: "Angkringan" Kepopuleran HIK di Solo merambah ke Yogyakarta sekitar tahun     1950-an. Di Yogyakarta, seorang pedagang bernama Pawiro (atau Pairo) dari Cawas, Klaten , juga mulai berjualan dengan pikulan di sekitar emperan Stasiun Tugu. Dari sinilah kemudian muncul istilah Angkringan. Kata "angkringan" sendiri berasal dari bahasa Jawa "nangkring" yang berarti nongkrong atau tempat untuk nongkrong, atau bisa juga merujuk pada "angkring" yaitu alat pikulan yang berbentuk melengkung keatas.

4. Evolusi Konsep dan Menu.

Pada awalnya, menu HIK/Angkringan sangat sederhana, mungkin hanya terikan dan minuman Seiring waktu, menu berkembang pesat dengan penambahan:

  • ·    Nasi Kucing: Nasi porsi kecil dengan aneka lauk (oseng tempe, sambal teri, dll) yang menjadi ikon utama.
  • ·        Sate-satean: Sate usus, sate telur puyuh, sate ati ampela, dll
  • ·       Gorengan: Bakwan, tempe, tahu, dll
  • ·       Wedang-wedangan: Teh, kopi, jahe, kopi jos (kopi dengan arang panas), dll.

Dari gerobak pikulan, Angkringan kemudian berinovasi dengan gerobak dorong beroda dua pada sekitar tahun 1970-an, membuatnya lebih fleksibel dan mudah dibawa.

 

 5. Filosofi dan Makna Sosial

Lebih dari sekitar tempat makan, HIK/Angkringan menjadi pusat interaksi social yang merakyat. Ia menjadi ruang egalitarian dimana berbagai lapisan masyarakat, dari mahasiswa, buruh, hingga eksekutif bisa duduk lesahan bersama, berbagi cerita, dan menikmati hidangan murah meriah tanpa sekat status sosial. Kesederhanaan, kehangatan dan keakraban inilah yang membuat HIK/Angkringan tetap lestari dan dicintai hingga kini.

Dengan asal-usul yang kaya akan cerita perjuangan dan adaptasi, HIK/Angkringan adalah bukti nyata bagaimana kuliner sederhana bias menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya suatu daerah.

 

 

 

 

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.